Linktara, Literasi Inklusi Nusantara, kembali ke berandaLinktara, Literasi Inklusi Nusantara, kembali ke beranda
Literasi Inklusi Nusantara

Membangun Indonesia yang inklusif, aksesibel, dan setara

Linktara adalah platform edukasi dan advokasi yang memperkuat kesadaran, kapasitas, dan aksi nyata menuju Indonesia inklusif bagi semua, terutama penyandang disabilitas dan kelompok rentan lainnya.

Lihat pelatihan onlineHubungi kami

Tentang Kami

Linktara didirikan oleh praktisi dan aktivis inklusi yang berpengalaman di tingkat nasional dan internasional. Kami mendorong transformasi kebijakan, layanan publik, dan budaya organisasi agar lebih responsif terhadap keberagaman manusia. Linktara dipimpin langsung oleh penyandang disabilitas netra, sehingga pengalaman hidup menjadi dasar setiap kegiatannya.

Foto Ari Triono, pendiri dan direktur Linktara, mengenakan jas abu-abu dan kacamata
Pendiri, Direktur & Konsultan Kebijakan Pelayanan Publik Inklusif

Ari Triono, S.S., MDPP

  • Penyandang disabilitas netra
  • Auditor aksesibilitas dan desain universal tersertifikasi, Universiti Malaya

Ari Triono adalah konsultan kebijakan pelayanan publik inklusif, auditor aksesibilitas dan desain universal tersertifikasi dari Universiti Malaya, sekaligus penyandang disabilitas netra. Pengalaman langsungnya menjadi dasar agar setiap kebijakan, pelatihan, dan inisiatif yang beliau rancang tetap membumi, etis, dan berdampak. Beliau mendampingi lembaga pemerintah merumuskan regulasi dan standar pelayanan publik yang inklusif, serta memfasilitasi pelatihan kesadaran disabilitas berskala besar, baik tatap muka maupun hibrida.

Latar belakangnya memadukan konsultansi kebijakan, desain universal, dan praktik langsung. Beliau memimpin Linktara sejak 2021 dan menempuh Master of Disability Policy and Practice di Flinders University, Australia (2019–2021). Beliau juga menjadi pembicara pada forum nasional dan internasional, serta menulis buku dan artikel tentang inklusi disabilitas, GEDSI, dan pelayanan publik inklusif.

Keahlian, pendidikan, dan publikasi

Bidang keahlian

  • Audit aksesibilitas dan desain universal (fisik dan digital)
  • Desain universal dan penyelenggaraan layanan inklusif
  • Kebijakan inklusi disabilitas dan reformasi pelayanan publik
  • Pengarusutamaan dan integrasi strategi GEDSI
  • Pelatihan dan fasilitasi kesadaran disabilitas berskala besar (tatap muka dan hibrida)
  • Teknologi bantu dan inklusi digital
  • Pelibatan pemangku kepentingan dari pemerintah dan organisasi masyarakat sipil

Pendidikan dan sertifikasi

  • Master of Disability Policy and Practice (MDPP), Flinders University, Australia (2019–2021)
  • Sarjana Sastra (S.S.), Universitas Dian Nuswantoro, Semarang (2012–2016)
  • Digital Office Trainer, BAKTI Komdigi, dengan Sertifikat Pelatih Nasional (2025)
  • Auditor aksesibilitas tersertifikasi, Accessibility and Universal Design Training Course (AUDT), Universiti Malaya, jaringan AUN-DPPnet (2023)
  • Inclusive Development Policy Reform (kursus singkat AAI), University of Sydney (2023)
  • Universal Design for Learning, Australian Department of Education (2022)
  • NDIS Worker Orientation, NDIS Commission, Australia (2021)
  • Pelatihan kesadaran disabilitas, Australia (2019)

Publikasi

Nilai-nilai kami

Akses untuk Semua

Partisipasi Bermakna

Pengetahuan yang Mentransformasi

Inovatif dan Kolaboratif

Rekam jejak terpilih

  • Konsultan untuk Peraturan Menteri PANRB Nomor 11 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Pelayanan Publik Ramah Kelompok Rentan.
  • Konsultan kebijakan pelayanan publik inklusif dan narasumber bagi berbagai kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah.
  • Trainer pelatihan sensitivitas disabilitas bagi ribuan petugas pelayanan publik.
  • Pembicara pada forum nasional dan internasional tentang aksesibilitas dan pelayanan publik inklusif.

Visi & Misi

Visi

Menjadi penggerak utama literasi inklusi di Indonesia yang menjunjung keadilan, aksesibilitas, kesetaraan, dan partisipasi bermakna bagi semua.

Misi

  • Membangun kesadaran dan kapasitas masyarakat serta aparatur negara melalui pelatihan, pendampingan, dan kampanye publik.
  • Mendukung perumusan dan implementasi kebijakan publik yang berpihak pada kelompok rentan, secara partisipatif, berbasis bukti, dan selaras dengan prinsip hak asasi manusia.
  • Menyediakan sumber daya edukatif yang aplikatif: panduan, infografis, modul pelatihan, dan alat bantu lain.
  • Melakukan audit dan asistensi teknis aksesibilitas pada layanan publik dan infrastruktur.
  • Membangun jaringan kolaborasi lintas sektor dengan organisasi penyandang disabilitas (OPDis), pemerintah, sektor swasta, akademisi, dan komunitas.

Layanan

Linktara mendampingi bisnis, pelayanan publik, dan kebijakan publik agar lebih inklusif dan aksesibel.

Audit Aksesibilitas & Universal Design

Penilaian aksesibilitas fisik, digital, dan non-fisik, dengan rekomendasi perbaikan berbasis regulasi dan praktik terbaik.

Konsultasi Kebijakan Inklusi

Review dan penyusunan kebijakan ramah disabilitas, SOP, serta standar pelayanan publik.

Pelatihan Sensitivitas Disabilitas

Modul berbasis Disability Equality Training (DET), simulasi komunikasi inklusif, dan Training of Trainers.

Kampanye & Edukasi Publik

Produksi konten visual dan digital inklusif, kampanye kesadaran sosial, dan kolaborasi lintas sektor.

Hubungi kami untuk berkonsultasi

Kegiatan

Kegiatan terbaru Linktara dalam konsultasi kebijakan dan penguatan kapasitas pelayanan publik inklusif.

Konsultasi Kebijakan dan Pelayanan Publik Inklusif

Memberikan Perspektif Inklusi dalam Forum Konsultasi Publik Kementerian Dalam Negeri

Tanggal
Instansi
Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia
Peran
Narasumber ahli
Narasumber
Ari Triono, S.S., MDPP, Pakar Inklusi dan Direktur Linktara

Pelayanan publik yang inklusif tidak cukup hanya dengan menyediakan fasilitas bagi kelompok rentan. Seluruh tahapan pelayanan perlu dapat diakses, dipahami, dan digunakan oleh setiap warga negara, termasuk penyandang disabilitas. Untuk memperkuat kualitas layanan, Kementerian Dalam Negeri menyelenggarakan Forum Konsultasi Publik (FKP) tentang layanan konsultasi luar jaringan di lingkungan kantor pusat pada 13 Oktober 2026.

Kontribusi Linktara. Ari Triono hadir sebagai narasumber ahli dengan paparan “Aksesibilitas Pelayanan Publik: Pemenuhan Sarana dan Prasarana bagi Kelompok Rentan.” Paparan ini menegaskan bahwa standar pelayanan tidak berhenti pada pencantuman fasilitas, tetapi harus menjamin fasilitas dan mekanisme pelayanan benar-benar dapat digunakan oleh masyarakat dengan kebutuhan yang beragam.

Tangkapan layar sesi Zoom forum konsultasi publik. Slide penutup berjudul Penutup menampilkan logo Linktara dan pesan: ukur keberhasilan dari hambatan yang berhasil dihilangkan; dengarkan pengalaman pengguna, uji aksesibilitas dalam praktik, perbaiki dengan tindak lanjut terukur. Di sisi kanan tampak Ari Triono sebagai pemateri.
Tangkapan layar sesi paparan secara daring, menampilkan slide penutup.
Fokus materi (5 aspek)
  1. Aksesibilitas sarana dan prasarana: akses sepanjang perjalanan pengguna layanan, mulai dari kedatangan, memasuki gedung, mengakses ruang pelayanan, hingga urusan selesai.
  2. Aksesibilitas informasi dan komunikasi: informasi dalam format yang dapat diakses dan komunikasi yang dapat dipahami oleh ragam disabilitas.
  3. Akomodasi yang layak: prosedur operasional yang memungkinkan petugas mengenali dan memenuhi kebutuhan akomodasi pengguna layanan secara tepat.
  4. Kompetensi petugas pelayanan: pemahaman dan keterampilan petugas untuk melayani secara inklusif, dengan menghormati martabat, pilihan, dan kemandirian.
  5. Partisipasi kelompok rentan: pelibatan penyandang disabilitas dan kelompok rentan dalam evaluasi dan pengembangan standar pelayanan.

Nilai strategis. Dengan perspektif GEDSI, aksesibilitas universal, dan pengalaman penyandang disabilitas, Linktara mendorong agar kebijakan dan standar pelayanan diterjemahkan menjadi praktik yang benar-benar dapat diakses semua orang.

Komitmen Linktara: mewujudkan pelayanan publik yang tidak hanya tersedia bagi semua orang, tetapi juga dapat diakses, digunakan, dan memberikan pengalaman yang bermartabat bagi setiap warga negara.

Pelatihan Pelayanan Publik

Membangun Pelayanan Publik Inklusif melalui Sensitivitas dan Kesadaran Disabilitas

Tanggal
Mitra
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Direktorat Pemberdayaan Masyarakat dan Pelaku Usaha Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik
Jenis layanan
Pelatihan Sensitivitas Disabilitas dan Penguatan Kapasitas Pelayanan Publik Inklusif
Narasumber
Ari Triono, S.S., MDPP, Pakar Inklusi dan Direktur Linktara

Melayani tanpa hambatan bukan sekadar menyediakan akses, tetapi juga mengubah cara pandang dalam memahami, menghargai, dan berinteraksi dengan setiap individu. Dalam pelatihan ini, Ari Triono menjadi narasumber bertema “Melayani Tanpa Batas: Etika dan Sensitivitas dalam Pelayanan Disabilitas”, bagian dari upaya BPOM memperkuat kapasitas penyelenggara layanan publik agar lebih inklusif, aksesibel, dan responsif terhadap kebutuhan penyandang disabilitas.

Sesi praktik langsung dalam pelatihan: seorang peserta duduk di kursi roda dan didorong peserta lain, sementara narasumber berdiri memegang mikrofon di ruang pertemuan.
Sesi praktik langsung bersama peserta.
Ari Triono berbicara dengan mikrofon saat menyampaikan materi di ruang pertemuan BPOM.
Ari Triono menyampaikan materi.

Pendekatan. Peserta diajak bergeser dari pertanyaan “Bagaimana kita dapat membantu penyandang disabilitas?” ke pertanyaan yang lebih mendasar: “Bagaimana memastikan setiap orang dapat mengakses pelayanan publik dengan aman, bermartabat, dan mandiri?” Penyandang disabilitas dipahami sebagai warga negara dan pemegang hak, bukan objek belas kasihan. Karena itu, sensitivitas disabilitas dibangun melalui diskusi, praktik langsung, dan refleksi atas interaksi pelayanan sehari-hari, bukan hanya materi dan teori.

Kontribusi Linktara. Inklusi tidak hanya ditentukan oleh fasilitas dan infrastruktur yang aksesibel, tetapi tercermin dari sikap, cara berkomunikasi, dan praktik setiap petugas di garda depan. Melalui kegiatan ini, Linktara memperkuat kapasitas kelembagaan dan mendorong pendekatan berbasis hak asasi manusia dalam penyelenggaraan pelayanan publik.

Pelayanan publik yang inklusif bukan sekadar terbuka bagi semua orang, melainkan benar-benar dapat diakses, dipahami, dan dimanfaatkan secara setara oleh setiap warga negara.

Sosialisasi Pelayanan Publik

Mendorong Pelayanan Publik yang Responsif terhadap Kebutuhan Kelompok Rentan di Lingkungan Polri

Tanggal
Mitra
Staf Utama Perencanaan Umum dan Anggaran (Stamarena), Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri)
Peran Linktara
Narasumber dan kontributor penguatan perspektif pelayanan publik inklusif
Peserta
Lebih dari 500 peserta dari berbagai Polda dan Polres di Indonesia
Metode
Daring melalui Zoom
Narasumber
Ari Triono, S.S., MDPP, Pakar Inklusi dan Direktur Linktara

Perubahan menuju pelayanan publik yang inklusif perlu dimulai dari ruang-ruang strategis tempat kebijakan, perspektif, dan praktik pelayanan dibentuk. Pada Senin, 31 Agustus 2026, Ari Triono menjadi narasumber dalam Sosialisasi Pelayanan Publik Responsif terhadap Kebutuhan Kelompok Rentan yang diselenggarakan oleh Stamarena Polri, dengan topik pelayanan publik yang responsif terhadap kebutuhan kelompok rentan.

Tangkapan layar pertemuan Zoom sosialisasi pelayanan publik. Ari Triono tampil dengan latar logo Linktara bersama perwakilan Polri, dengan daftar sekitar 558 peserta dari berbagai Polda dan Polres di sisi kanan.
Tangkapan layar sosialisasi daring melalui Zoom.

Pesan utama. Pelayanan publik inklusif bukan semata persoalan fasilitas aksesibel, tetapi tentang bagaimana negara hadir, memberi perlindungan, dan memastikan setiap warga negara menikmati hak pelayanan secara setara. Penyandang disabilitas tidak seharusnya merasa meminta perlakuan istimewa, lansia tidak seharusnya dipandang sebagai beban, dan anak-anak, perempuan, serta kelompok rentan lainnya tidak seharusnya menghadapi hambatan berlapis untuk memperoleh hak yang sama.

Ukuran keberhasilan. Pelayanan yang baik bukan hanya soal seberapa cepat masyarakat dilayani, tetapi juga sejauh mana penyelenggara mengenali siapa saja yang berpotensi tertinggal. Karena itu, inklusi perlu diterapkan menyeluruh, mulai dari sistem, lingkungan, sarana dan prasarana, komunikasi, hingga budaya pelayanan yang sejak awal dirancang agar dapat dimanfaatkan oleh sebanyak mungkin orang.

Kontribusi Linktara. Linktara turut memperkuat perspektif inklusi dan kapasitas aparatur kepolisian. Harapannya, pemahaman tentang kelompok rentan tidak berhenti pada pertemuan virtual, materi presentasi, atau dokumen kebijakan, tetapi menjadi perubahan nyata dalam cara berpikir, bekerja, dan melayani.

Negara harus hadir untuk semua. Termasuk bagi mereka yang selama ini paling sulit menjangkau pelayanannya.

Bidang keahlian: pelayanan publik inklusif, GEDSI, aksesibilitas, desain universal, dan penguatan kapasitas aparatur.

Pelatihan Sensitivitas Disabilitas dan Penguatan Budaya Kerja Inklusif

Membangun Empati dan Budaya Kerja Inklusif melalui Pembelajaran Berbasis Pengalaman

Tanggal
Mitra
Direktorat Pengawasan Mutu, Keamanan, Impor dan Ekspor Obat Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM RI)
Bentuk kegiatan
Pelatihan dan penguatan kapasitas
Pendekatan
Experiential learning, role-playing, simulasi interaktif, dan refleksi
Peran Linktara
Fasilitator dan narasumber
Fasilitator
Ari Triono, S.S., MDPP, Pakar Inklusi dan Direktur Linktara
“Ternyata selama ini kami belum pernah menyadari hal tersebut.”

Ungkapan itu beberapa kali terdengar selama pelatihan yang difasilitasi Ari Triono pada 17 Juni 2026 bersama Direktorat Pengawasan Mutu, Keamanan, Impor dan Ekspor Obat Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif BPOM RI. Kegiatan ini bagian dari penguatan reformasi birokrasi melalui budaya kerja yang lebih inovatif, kolaboratif, dan inklusif.

Suasana ruang pelatihan: peserta dengan laptop duduk di meja bundar menghadap layar presentasi, dengan dua orang duduk di depan ruangan.
Suasana ruang pelatihan.
Peserta pelatihan berdiri berjajar dalam salah satu aktivitas pelatihan, dengan layar presentasi di sisi kiri ruangan.
Aktivitas praktik bersama peserta.
Peserta pelatihan duduk dan berdiri di sekitar meja di ruang pelatihan, tampak dari belakang.
Peserta dalam sesi pelatihan.

Temuan. Kesadaran itu justru tidak muncul saat peserta mendengarkan paparan materi, melainkan saat mereka terlibat dalam simulasi interaktif, permainan peran, dan aktivitas praktik yang mengajak mereka melihat pelayanan publik dari perspektif berbeda. Empati tidak cukup dibangun melalui informasi. Ia tumbuh ketika seseorang diberi kesempatan memahami realitas yang dialami orang lain.

Pendekatan Linktara. Linktara menerapkan experiential learning atau pembelajaran berbasis pengalaman: porsi ceramah diminimalkan, sementara ruang untuk praktik, interaksi, simulasi, dan refleksi diperluas. Tujuannya agar peserta tidak hanya memahami konsep sensitivitas disabilitas, tetapi juga merefleksikan sikap, mengenali hambatan dalam interaksi pelayanan, dan mengembangkan perilaku yang lebih inklusif dalam pekerjaan sehari-hari.

Harapan. Linktara mengapresiasi antusiasme, keterbukaan, dan kesediaan peserta keluar dari zona nyaman. Semangat reformasi birokrasi diharapkan hadir dalam setiap interaksi antara aparatur dan masyarakat, bukan berhenti pada kebijakan, dokumen strategis, atau target kelembagaan.

Perubahan budaya kerja tumbuh ketika kita mulai menyadari, merasakan, dan membiasakan diri melakukan hal yang benar.

Bidang keahlian: disability awareness, experiential learning, budaya kerja inklusif, GEDSI, dan pelayanan publik inklusif.

Disability Equality Training (DET)

Memperkuat Sensitivitas Disabilitas bagi Petugas Garda Depan Mal Pelayanan Publik

Tanggal
Mitra kolaborasi
Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kementerian PANRB)
Penyelenggara pelatihan
Linktara
Sasaran peserta
Petugas garda depan Mal Pelayanan Publik (MPP)
Topik
Sensitivitas disabilitas dan etika berinteraksi dengan penyandang disabilitas

Pelayanan publik yang inklusif membutuhkan fasilitas yang aksesibel, tetapi juga petugas yang memiliki pemahaman, sikap, dan keterampilan yang tepat. Tidak sedikit petugas yang berniat baik, tetapi belum sepenuhnya memahami cara membantu tanpa mengabaikan kemandirian, pilihan, dan martabat penyandang disabilitas. Untuk menjawab kebutuhan itu, Linktara berkolaborasi dengan Kementerian PANRB menyelenggarakan Pelatihan Sensitivitas Disabilitas: Etika Berinteraksi dengan Penyandang Disabilitas (Disability Equality Training/DET) bagi petugas garda depan MPP, agar inklusi tidak berhenti sebagai konsep tetapi diterapkan dalam praktik sehari-hari.

Siaran langsung Kementerian PANRB: Transformasi Mal Pelayanan Publik sebagai Simpul Layanan Terintegrasi dan Inklusif, 15 Juni 2026.

Tonton video di YouTube (membuka tab baru)

Yang dipelajari peserta:

  • Mengenali keberagaman disabilitas, termasuk disabilitas yang tidak selalu terlihat kasatmata (non-visible disabilities).
  • Mengidentifikasi ableisme: sikap, asumsi, dan praktik pelayanan yang tanpa disadari melanggengkan diskriminasi.
  • Membangun komunikasi yang setara, yang menghormati pilihan, hak, kemandirian, dan martabat penyandang disabilitas.
  • Menciptakan lingkungan pelayanan yang inklusif: aksesibilitas dan suasana pelayanan yang ramah serta dapat dimanfaatkan semua orang.

Peserta diajak merefleksikan bahwa pelayanan inklusif sering dimulai dari interaksi sederhana: cara menyapa, menawarkan bantuan secara tepat, memberi waktu yang cukup, dan memastikan setiap warga negara dapat mengakses layanan tanpa diskriminasi. Bagi Linktara, penguatan kapasitas petugas garda depan adalah langkah penting dalam transformasi pelayanan publik, karena fasilitas aksesibel perlu berjalan beriringan dengan kompetensi dan sensitivitas petugasnya.

Perubahan menuju pelayanan publik inklusif tidak selalu dimulai dari kebijakan besar, tetapi dari cara seorang petugas menyapa, mendengarkan, dan memperlakukan setiap warga negara dengan setara.

Bidang keahlian: Disability Equality Training, disability awareness, komunikasi inklusif, aksesibilitas, dan pengembangan pelayanan publik inklusif.

Disability Awareness and Inclusive Service Training

Membangun Ekosistem Transportasi Publik Inklusif melalui Penguatan Kapasitas Petugas TransCare

Periode
Februari–April 2026, Jakarta
Mitra
PT Transportasi Jakarta, melalui TransJakarta Academy dan manajemen TransCare
Sasaran peserta
Pramusapa (co-drivers) dan pramudi (drivers) TransCare
Metode
Experiential learning, triad role-play, simulasi interaktif, praktik, dan refleksi
Pelaksana
Linktara
Fasilitator
Ari Triono, S.S., MDPP, Pakar Inklusi dan Direktur Linktara

Transportasi publik yang inklusif tidak cukup dengan kendaraan dan fasilitas yang aksesibel. Di balik setiap perjalanan ada petugas yang menentukan apakah penumpang penyandang disabilitas dapat bepergian dengan aman, nyaman, mandiri, dan bermartabat. Karena itu, Linktara berkolaborasi dengan PT Transportasi Jakarta dalam rangkaian pelatihan peningkatan kapasitas petugas layanan TransCare pada Februari hingga April 2026, yang difasilitasi Ari Triono bagi dua kelompok petugas: pramusapa dan pramudi.

TransCare adalah layanan transportasi khusus point-to-point bagi penyandang disabilitas di Jakarta. Layanan ini menjemput penumpang dari tempat tinggal hingga tujuan, sehingga kompetensi petugas sangat menentukan kualitas perjalanan.

Video dokumentasi pelatihan TransCare dari Instagram Linktara.

Tonton video di Instagram (membuka tab baru)

1. Penguatan sensitivitas disabilitas bagi pramusapa

23–27 Februari 2026 · 5 gelombang · sekitar 65 peserta

Pelatihan ini berfokus pada empati, inisiatif, dan pelayanan yang menghormati hak serta martabat penyandang disabilitas. Dengan metode triad role-play, peserta bergantian berperan sebagai petugas, penumpang, dan pengamat, lalu merasakan pengalaman menerima pelayanan tanpa etika dan penghormatan. Respons yang muncul spontan, dari frustrasi, tidak nyaman, bingung, hingga marah, menjadi momen refleksi bahwa pelayanan tanpa penghormatan martabat bukan pengalaman yang menyenangkan.

Dari sini peserta diajak bergeser dari pelayanan yang didorong rasa kasihan menuju pelayanan berperspektif hak asasi manusia: pelayanan inklusif bukan sekadar membantu, melainkan menghormati otonomi, mengakui martabat, dan memperlakukan setiap penumpang sebagai manusia yang setara.

2. Penguatan kompetensi pelayanan dan keselamatan bagi pramudi

20–28 April 2026 · 5 gelombang

Tugas pramudi TransCare menuntut keputusan cepat, keterampilan teknis, dan sensitivitas, misalnya saat penumpang mengalami serangan epilepsi di kabin yang terbatas, saat terjadi gangguan teknis di perjalanan, atau saat menggunakan ramp kursi roda tanpa membuat penumpang merasa menjadi beban. Pelatihan membahas tiga fokus:

  • Pola pikir pelayanan inklusif dan human-centered: keselamatan, kemandirian, dan martabat penumpang sebagai bagian tak terpisahkan dari pelayanan.
  • Manajemen risiko dan penanganan keadaan darurat: simulasi respons terhadap serangan epilepsi, situasi darurat, dan prosedur evakuasi cepat.
  • Prosedur pelayanan last-mile yang aman: naik dan turun kendaraan, penggunaan ramp, dan pendampingan penumpang yang aman serta menghormati otonomi pengguna layanan.

Membangun budaya pelayanan yang menghormati martabat. Pramusapa dan pramudi memiliki peran berbeda, tetapi keduanya bagian penting dari pengalaman perjalanan penumpang, sehingga penguatan kapasitas perlu disesuaikan dengan fungsi pekerjaan dan tantangan operasionalnya. Bagi Linktara, aksesibilitas tidak hanya soal ramp, kendaraan khusus, atau kelengkapan fasilitas, tetapi juga bagaimana petugas memahami, menghormati, dan memperlakukan setiap penumpang. Linktara mengapresiasi kepercayaan dan kolaborasi PT Transportasi Jakarta, khususnya TransJakarta Academy dan manajemen TransCare.

Transportasi publik yang inklusif memastikan penyandang disabilitas dapat bepergian dengan aman, mandiri, dihormati, dan tanpa kehilangan martabatnya.

Bidang keahlian: disability awareness training, disability equality, transportasi inklusif, manajemen risiko darurat, pelayanan berpusat pada manusia, dan pengembangan kapasitas petugas pelayanan.

Berita Inklusi

Kabar terbaru seputar inklusi dan disabilitas di Indonesia akan dirangkum di sini, termasuk video singkat Kabar Inklusi Mingguan. Ikuti juga di Instagram @linktara.id.

Segera hadir

Kabar Inklusi Mingguan

Ringkasan berita inklusi setiap pekan.

Segera hadir

Artikel & opini

Tulisan seputar kebijakan dan layanan publik inklusif.

Pelatihan Online

Belajar inklusi secara mandiri dengan modul interaktif, kuis tiap modul, dan sumber rujukan tepercaya. Peserta yang menyelesaikan seluruh modul berhak mendapatkan sertifikat.

Segera hadir

Disability Equality Training

Segera hadir

Pelatihan Sensitivitas Disabilitas

Segera hadir

Pelatihan inklusi lainnya

Hubungi Kami